Location
Home > News > Dongkrak Permintaan Pasar Otomotif, Pemerintah Akan Berikan Insentif

Dongkrak Permintaan Pasar Otomotif, Pemerintah Akan Berikan Insentif

Gambar Ilustrasi Industri Otomotif

JAKARTA, INDUSTRIAMAGZ – Menjaga kontuinitas produksi industri untuk pasar domestik maupun ekspor menjadi komitmen pemerintah. Pasalnya, produksi industri yang berjalan dengan baik akan memberikan efek ganda  berupa meningkatnya nilai tambah bahan baku, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan devisa dari ekspor. Meski perlu upaya koordinasi dan sinergi yang kuat dengan para pemangku kepentingan.

Untuk itu pemerintah akan melakukan tiga hal, yaitu mempermudah akses terhadap ketersediaan bahan baku, pasokan energi, dan pemberian insentif.

“Akses ini yang perlu diperlancar sehingga mendorong kinerja manufaktur kita jadi semakin positif. Kementerian Perindustrian selama ini fokus dan konsisten memacu daya saing dan produktivitas industri dalam negeri,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu (1/11).

Menurut Airlangga, pihaknya telah memetakan segala macam kebutuhan di berbagai sektor. Seperti harga gas dan listrik yang lebih kompetitif.

“Ini sudah ada dalam bagian dari paket kebijakan ekonomi, supaya bisa cepat terealisasi agar pelaku industri tidak menunggu terlalu lama,” ungkapnya.

Disektor otomotif guna mendongkrak permintaan pasar, Airlangga mengemukakan telah membahas dengan Kementerian Keuangan terkait pemberian fasilitas  berupa insentif.

“Misalnya di industri otomotif, salah satunya melalui penurunan tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Termasuk juga insentif fiskal untuk industri padat karya berorientasi ekspor,” tuturnya.

Menurut Menteri Airlangga, potensi pasar ekspor saat ini masih cukup luas. Oleh karenanya, industri nasional perlu didorong untuk mengkombinasikan tujuan pemasaran produknya, selain membidik pasar domestik. “Pemerintah tengah berupaya menyelesaikan perjanjian-perjanjian internasional agar produk lokal yang kita andalkan untuk ekspor tidak terganggu. Pasalnya, ada beberapa produk kita yang terkena treatment pajak di luar negeri melalui Most Favoured Nation (MFN),” ungkapnya.

Namun demikian, Menperin optimistis terhadap daya saing industri nasional ke depannya dapat lebih kompetitif di kancah global. Selain itu, manufaktur mampu memberikan sumbangan yang signifikan bagi perekonomian nasional.

“Pemerintah telah memberikan kemudahan pelayanan dan perizinan bagi para investor dalam menjalankan usahanya di Indonesia,” tegasnya.

Menperin optimis, kenaikan peringkat kemudahan berusaha (Ease of Doing Business/EoDB) yang dicapai Indonesia akan mendorong para investor untuk menanamkan modalnya. Demikian juga peringkat manufaktur Indonesia terutama untuk value added atau nilai tambah berada di peringkat ke-9 di dunia. Capaian ini sejajar dengan Brazil dan Inggris, bahkan lebih tinggi dari Rusia, Australia, dan negara ASEAN lainnya.

Top