Location
Home > Bisnis View > Manajemen > Sebagai Pemimpin, Belajarlah Empati, Walau Sekadar Pura-pura

Sebagai Pemimpin, Belajarlah Empati, Walau Sekadar Pura-pura

JAKARTA, INDUSTRIAMAGZ – Sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyikapi bencana badai tropis di Texas beberapa waktu lalu menuai kritik: ia dianggap kurang peka dan tidak berempati. Seperti diketahui, Presiden Trump memang mengucapkan kata-kata yang menguatkan pada para korban. Namun sayangnya, ia tidak menemui langsung para korban, maupun menyebut jumlah korban jiwa.

Padahal di hadapan para pendukungnya, Trump selalu berkoar bahwa ia mencintai mereka, dan bahwa mereka spesial dan layak diperhatikan. “Jurnalis yang ada di lokasi mengaku tidak mendengar Trump bicara soal jumlah korban jiwa, luka berat, maupun yang hilang karena bencana alam Texas. Bahkan Trump juga tidak menujukkan ekspresi simpati pada mereka,” demikian dikatakan reporter Dallas Morning News. “Yang ia sampaikan hanya soal bantuan pemerintah, dan bahwa warga Texas akan baik-baik saja.”

Trump tampaknya sadar sikapnya menuai kritik. Walhasil Rabu lalu, ia kembali mengucapkan bela sungkawa untuk para korban tragedy Texas. Ia mengucap bahwa hatinya sungguh sedih karena melihat derita yang dialami warga Texas. Namun sayangnya, ucapan itu belum cukup menuai simpati. Banyak yang mengkritik Trump mestinya datang langsung ke Texas untuk menilik lokasi.

Pelatih komisioner dan penulis untuk Harvard Business Review, Sabina Nawaz, mengatakan, peneliti mendapati bahwa kecerdasan emosional lebih penting dibanding kecerdasan intelektual. “Semakin banyak anak buah Anda, semakin penting buat Anda untuk memahami dan menerapkan kecerdasan emosional,” ujarnya kepada Moneyish.

Menurut Nawaz, empati sangatlah penting dan punya peran vital di jalannya manajerial. Sebab sikap empati menghubungkan orang satu dengan lainnya, dan khususnya seorang bos, tentu membutuhkan lebih banyak pengikut. Lalu, bagaimana cara menunjukkan simpati?

Pertama, beri penekanan pada kata “saya pun”. Nawaz mengatakan, ini penting agar pemimpin memberi perasaan nyaman pada anak buanya, bahwa ia juga merasakan apa yang dirasakan si pegawai. Kedua, jangan bicara terlalu banyak. Usahakan bicara seperlunya, agar memberi ruang pada lawan bicara untuk memberi kode apa yang sebaiknya Anda katakana. Kalau perlu, lebih baik Anda diam dan mendengarkan, tak usah sibuk memberi komentar.

Ketiga, tunjukkan empati dengan kalimat yang pas. Misal ada kawan Anda batal dipromosikan jabatannya, jangan bilang padanya bahwa dia sudah beruntung punya pekerjaan ini. Namun katakan bahwa Anda ikut bersedih, dan menawarkan bantuan padanya. Keempat, jadilah pendengar yang baik. Kalau Anda sulit menunjukkan empati ke orang, pakar manajemen JoAnna Beckson menyarankan Anda unuk mendengarkan saja. Berusahalah tidak menyalahkan anak buah Anda, kemudian tempatkan diri Anda seandainya ada di posisinya. “Buatlah lawan bicara Anda nyaman,” kata Nawaz.

Ia kemudian mencontohkan bekas Presiden AS Bill Clinton yang pernah berkata “Saya memahami penderitaanmu” pada aktivis AIDS, Bob Rafsky pada 1992. Menurut Nawaz, kalimat itu adalah bukti Clinton punya kecerdasan emosional tinggi. “Apakah sikapnya itu asli atau dibuat-buat, saya tak tau. Yang jelas Clinton jadi terlihat punya kecerdasan ekonomi yang baik,” ujarnya.

TRIVIA | MONEYISH

Baca juga:
Mesti Lakukan 12 Hal Ini untuk Menjadi Pemimpin Hebat

Top