Location
Home > Bisnis View > Manajemen > Generasi X, Y, dan Z Beda Sudut Pandang Soal Ambisi dan Pekerjaan

Generasi X, Y, dan Z Beda Sudut Pandang Soal Ambisi dan Pekerjaan

Generasi X, Y, dan Z punya pemikiran berbeda soal ambisi dan kepemimpinan. Sumber foto: GoBankingRates

JAKARTA, INDUSTRIAMAGZ – Di masa depan, kita bakal melihat pemandangan bahkan merasakan sendiri kondisi ini: generasi X, Y, dan Z, bekerjasama untuk urusan pekerjaan. Seperti diketahui, generasi X adalah mereka yang lahir sebelum tahun 1980-an setelah generasi Baby Boomers. Sementara generasi Y atau biasa disebut millenials, lahir antara 1984-1996, sedangkan generasi Z adalah anak kelahiran setelah 1997 yang tak lama lagi masuk ke dunia kerja.

Berbedanya karakter ketiga generasi membuat INSEAD Emerging Markets Institute, Universum, dan HEAD Foundation melakukan penelitian. Survei itu melibatkan 18 ribu orang pekerja profesional dan pelajar dari 19 negara sebagai responden. Tujuannya, untuk melihat perbedaan nilai dan aspirasi tiap generasi, dan hasilnya bisa dimanfaatkan perusahaan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan peran pegawainya.

Di berbagai belahan dunia, menjadi pemimpin dianggap penting bagi 61 persen responden Gen Y, 61 persen Gen Z, dan hanya 57 persen Gen X. Adapun respon mereka terhadap kepemimpinan dan ambisi sendiri berbeda-beda. Responden di negara-negara Nordic, Eropa, misalnya, tidak begitu tertarik terhadap isu kepemimpinan. Berbeda dengan mereka yang ada di Meksiko. Sebanyak 76 persen Gen Y di Meksiko menganggap kepemimpinan adalah hal yang penting, tapi hanya 47 persen responden generasi yang sama di Norwegia yang berpikiran sama. Sementara itu 77 persen responden Gen Y asal Amerika Serikat menganggap jenjang karir kepemimpinan adalah hal yang penting.

Hasil riset ini tentu bisa membuat organisasi atau perusahaan menimbang preferensi pegawai mereka. jika di Denmark, Swedia, dan Prancis, hanya 56 persen responden Gen Y-nya yang antusias soal kepemimpinan, di Meksiko, India, dan AS, para anak muda generasi Y justru semangat belajar untuk mengatur ekspektasi dan menambah pengalaman kepemimpinan atu motivasi lain untuk pekerja mereka yang ambisius.

Secara umum, pekerja Gen Y dan Gen X lebih tertarik pada pelatihan dan bimbingan yang seiring dengan tugas manajeria dibandingkan mendapat tanggung jawab yang lebih besar. Adapun Gen Z suka diberi tanggung jawab, kebebasan, dan keterlibatan dalam kepemimpinan yang lebih besar. Penelitian juga mengungkap bahwa mayoritas responden Gen X di Spanyol suka hal yang berbau mentoring untuk urusan kepemimpinan. Sementara responden Gen X dari Jerman, Denmark, Inggris, dan AS menganggap tugas yang menantang sebagai aspek paling menyenangkan dari pekerjaan.

Sikap akan kepemimpinan di antara laki-laki dan perempuan juga berbeda di banyak negara. Sebanyak 63 persen laki-laki dan 52 persen perempuan Gen X menganggap menjadi pemimpin penting bagi mereka. adapun di antara responden dari kelas pekerja Gen Y dan Gen Z, ada 63 persen responden laki-laki dan 61 persen perempuan yang menyenangi aspek kepemimpinan.

Alasannya beragam. Tapi secara umum, perempuan Gen X lebih suka mengerjakan tugas yang menantang dan memberi pelatihan dibanding terlibat urusan kepemimpinan. Sedangkan perempuan Gen Y menganggap pelatihan menjadi hal yang menyenangkan. Beda dengan perempuan Gen Z yang menilai tanggung jawab besar adalah hal paling atraktif dari sebuah kepemimpinan. Sementara pekerja laki-laki dari berbagai generasi cenderung menyenangi tanggung jawab besar dan peluang pendapatan di masa depan.

Persamaan pekerja perempuan ada di urusan manajemen stres. Mereka cenderung mengalami stres lebih banyak dibanding laki-laki, merasa tidak percaya diri untuk memimpin, dan takut gagal. Lebih spesifik lagi, di Cina, perempuan millenials merasa prihatin karena tidak menemukan peluang pengembangan diri yang mereka butuhkan. Sementara perempuan Gen X di sana cenderung cemas tidak bisa menikmati masa pensiunnya. Sedangkan perempuan pekerja di AS takut tidak bisa mewujudkan karir mereka, dan yang di Swedia justru takut kebanyakan bekerja.

HBR | TRIVIA

Baca juga:
Generasi Millenial Boros di Pos Pengeluaran Ini

Top