Location
Home > Sektor > Keuangan > Daya Beli Konsumen Lemah, Presiden Diminta Turun Tangan

Daya Beli Konsumen Lemah, Presiden Diminta Turun Tangan

JAKARTA, INDUSTRIAMAGZ – Penjualan produk berbasis konsumen seperti makanan dan kosmetik terus melemah pada semester pertama tahun ini. Tak mau kondisi ini berkepanjangan, pengusaha sektor riil berencana memberi rekomendasi pada Presiden RI Joko Widodo. Rekomendasi itu akan dilayangkan dalam bentuk surat.

Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi S. Lukman, pihaknya akan melayangkan surat rekomendasi untuk presiden pada pekan depan. Ia menilai pemerintah mesti segera mengambil kebijakan untuk meningkatkan daya beli.

“Ini persoalan serius. Meski pemerintah menyebut kondisi makro ekonomi baik, tapi itu tidak berdampak pada sektor riil,” ujarnya pekan lalu seperti dikutip dari Bisnis.com.

Adhi menjelaskan, pengusaha sebelumnya berharap momen Ramadan dan Lebaran bisa meningkatkan daya beli konsumen, sebagai kompensasi penurunan penjualan pada kuartal pertama 2017. Namun nyatanya, angka penjualan stagnan.

Kondisi tersebut berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Ia menyebutkan, tahun lalu Ramadan dan Lebaran bisa mengkatrol penjualan hingga 20 persen dibanding semester sebelumnya. Namun tahun ini, banyak stok barang di retail masih menumpuk sehingga order baru ke pabrik menjadi tersendat.

Pelaku usaha sektor riil sendiri kini berharap ada perubahan berarti pada kuartal ketiga tahun ini. “Kami belum bisa memprediksi situasi yang akan terjadi, yang jelas pemerintah harus bertindak atas sinyal melemahnya konsumsi masyarakat,” kata dia.

Adapun Asosiasi Kosmetika Indonesia (PPA Kosmetika) memperkirakan angka penjualan sektornya pada semester ini tak akan sebaik periode yang sama tahun lalu. Bahkan, kata Ketua Harian PPA Kosmetika Sholihin Sofyan, penjualan retail turun hingga 20 persen.

Sholihin menduga salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan penjualan adalah banjirnya kosmetik ilegal. Kondisi ini menyulitkan pengusaha industri kosmetik, apalagi masih harus bersaing dengan produk impor. “Perusahaan nasional harus memikirkan bagaimana agar produknya bisa murah untuk bisa unggul di pasar,” ujarnya.

Pengamat ekonomi dari Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan, merosotnya daya beli konsumen pada Ramadan dan Lebran tahun ini salah satunya disebabkan berubahnya pola belanja. Masyarakat yang semula mengalokasikan uangnya untuk belanja kebutuhan Lebaran, memilih untuk menahan konsumsi demi memenuhi kebutuhan tahun ajaran baru sekolah.

Ia menilai, perbaikan pendapatan masyarakat bisa jadi solusi untuk meningkatkan daya beli konsumen. Salah satunya adalah dengan meningkatkan pendapatan dari sektor industri yang berorientasi ekspor. “Kalau trennya membaik, maka daya beli bisa naik. Tapi bisa juga sebaliknya,” kata dia. Di samping itu, daya beli di sektor produktif seperti pertanian dan perikanan juga mesti dijaga. “Jangan sampai harga beli hasil tani terlalu murah sehingga merugikan petani.”

 

TRIVIA | BISNIS.COM

Top